Senin, 20 Februari 2012

tugas demokrasi






1.       Salah satu contoh yang menentang demokrasi yaitu pengeroyokan oleh pegawai PN Ambon dan pemidanaan Juhry bukan sekadar tindakan melawan hukum. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan tindakan menentang hak masyarakat atas kebebasan informasi, dan dengan demikian melawan demokrasi.[1]

2.       Banyak orang2 yang golput dalam beberapa pilkada , dan banyak para pengamat politik juga memprediksikan bahwa golput akan meningkat saat pilpres 2009.
yang menjadi wacana dalam perdebatan ini adalah apakah tindakan Golput itu adalah bagian dari demokrasi ?

banyak orang yang mengatakan bahwa golput adalah salah satu dari mekanisme demokrasi, yaitu hak individu yang merdeka. namun apakah alasan itu benar ?
Bila kita melihat makna demokrasi yaitu kedaulatan ditangan rakyat dalam arti untuk mejalankan roda pemerintahan yang dijalankan oleh berbagai institusi pemerintah, tentunya alasan bahwa golput adalah demokratis sepnuhnya tidak benar.
Rakyat dituntut untuk andil dalam pemerintahan suatu negara lewat proses pemilu. Jadi golput adalah tindakan menolak untuk berpartisipasi dalam roda pemerintahan suatu negara. Secara moral, golput termasuk golongan yang tidak baik.

Analoginya begini, suatu perusahaan dijalankan oleh banyak orang, ada komisaris, ada direktur, ada manajer, dll. Dalam hal ini, Golput adalah orang2 yang tidak mau andil dalam roda kegiatan untuk menjalankan suatu perusahaan. Jadi, seyogyanya orang2 yang "golput" dalam suatu perusahaan, hendaknya dipecat dari perusahaan itu bukan ?

Sebenarnya, Tindakan Golput hanya membuat senang parpol yang 'anti demokrasi.
[2]

3.       PALEMBANG - Di tengah terpaan kasus korupsi yang menjerat Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng, Wafid Muharam, proyek pembangunan Wisma Atlet untuk South East Asia (SEA) Games XXVI 2011 berjalan lancar di Jakabaring Sport City Complex (JSCC), Palembang.

Kasus suap yang terus bergulir bak bola panas ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sama sekali tidak mengganggu proyek Wisma Atlet. Proses pengerjaan pasangan keramik untuk Blok A-B-C kini mulai dirampungkan.

"Progres fisik sudah mencapai 54 persen dan pengerjaan item pasangan keramik dilakukan di lantai Mess untuk Blok A-B-C," ungkap Mumu Mulyadi, Manajer Proyek Wisma Atlet, kepada pers, Jumat (13/5/2011).

Mumu menyebut, pekerjaan proyek saat ini difokuskan sampai tahapan keterselesaian, hingga pekerja ekstra hati-hati melakukannya. Sedangkan tahap pengerjaan struktur telah selesai, tinggal menyekat kamar per kamar, mengecat, dan memasang keramik saja.

"Karena sudah mendekati finising, kami harus semakin teliti bekerja," tutur Mumu, yang tidak ambil pusing dengan kasus korupsi yang menjerat Sesmenpora.
[3]

4.      Iwan Taruna dan Syamsul Al Timen

04/03/2010 16:25



Liputan6.com, Makassar: Aksi anarkis yang dilakukan mahasiswa menuntut penuntasan skandal Bank Century kembali terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan Kamis (4/2). Ratusan mahasiswa Universitas Sultan Alauddin Makassar berunjuk rasa dengan merusak fasilitas publik yang berada di sekitar Jalan Sultan Alauddin.

Pos polisi yang berada di perempatan Jalan Pettarani dan Sultan Alauddin yang berada di dekat kampus juga menjadi sasaran pengrusakan. Selain memecahkan kaca-kaca, mereka juga menghancurkan perabotan di pos polisi.

Aksi anarkis ini merupakan buntut dari insiden kekerasan yang berlangsung di depan sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam di jalan Bottolempangan Rabu (3/2) malam. Mahasiswa yang saat itu sedang berunjuk rasa dibubarkan aparat kepolisian karena memblokade badan jalan, hingga bentrokan terjadi. Dua mahasiswa ditangkap aparat kepolisian dari peristiwa itu.

Aksi unjuk rasa serupa juga terjadi di depan kampus Universitas Muslim Indonesia dan Universitas Empat Lima. Mahasiswa di kedua kampus tersebut memblokir jalan dengan membakar ban bekas. Akibat aksi ini, hampir sebagian jalur trans Sulawesi lumpuh total. Mahasiswa menuntut DPR agar tetap pada komitmennya melahirkan rekomendasi hukum guna mengusut tuntas skandal Bank Century, tanpa menghiraukan tekanan dari kelompok anti keadilan.[4]

5.       Politik uang atau biasa disebut money politic, merupakan hal yang hampir menjadi budaya para pelaku politik di bangsa Indonesia ini. Dan hal itu pun secara tidak sadar justru merusak demokrasi yang sudah berjalan sekian tahun. Politik Uang sering digunakan dalam moment-moment pilkada, pemilihan lurah, bahkan pemilihan presiden.Uang sudah menjadi panglima dalam perpolitikan Indonesia. Hal itu disebabkan karena belum adanya penegakkan supremasi hukum oleh para aparat penegak hukum. Di masa pemilihan Gus Dur, Beliau terpilih menjadi presiden bukan karena uang, melainkan benar-benar berangkat dari kepercayaan masyarakat. Negeri ini akan semakin hancur, apabila politik uang terus dibiarkan.

Para pelaku politik tidak merasa malu untuk mempraktekkan politik uang. Mereka bahkan secara terang-terangan melakukan deal-deal politik/ transaksi politik untuk memperoleh kekuasaan. Sehingga hal itu pun melahirkan masyarakat yang pragmatis. Kita tidak boleh menyalahkan masyarakat apabila mereka mengharap uang di muka tatkala ada pencalonan seseorang.
Apa yang akan terjadi apabila ideologi,loyalitas, orientasi dan lain-lain, sudah mampu terbeli dengan uang?
Hal ini bisa kita jadikan renungan bagi kita bersama, untuk membangun peradaban Indonesia jangka panjang.
[5]



[1] http://teni-setiani.blogspot.com/2010/06/makalah-demokrasi.html
[2] http://archive.kaskus.us/thread/983184/0/apakah-golput-itu-demokratis
[3] http://sports.okezone.com/read/2011/05/13/43/456861/kasus-korupsi-wisma-atlet-jalan-terus
[4] http://berita.liputan6.com/read/266417/Demo.Anarkis.Mahasiswa.Rusak.Pos.Polisi
[5] http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2087235-politik-uang-money-politic-merusak/





1.       Salah satu contoh yang menentang demokrasi yaitu pengeroyokan oleh pegawai PN Ambon dan pemidanaan Juhry bukan sekadar tindakan melawan hukum. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan tindakan menentang hak masyarakat atas kebebasan informasi, dan dengan demikian melawan demokrasi.[1]

2.       Banyak orang2 yang golput dalam beberapa pilkada , dan banyak para pengamat politik juga memprediksikan bahwa golput akan meningkat saat pilpres 2009.
yang menjadi wacana dalam perdebatan ini adalah apakah tindakan Golput itu adalah bagian dari demokrasi ?

banyak orang yang mengatakan bahwa golput adalah salah satu dari mekanisme demokrasi, yaitu hak individu yang merdeka. namun apakah alasan itu benar ?
Bila kita melihat makna demokrasi yaitu kedaulatan ditangan rakyat dalam arti untuk mejalankan roda pemerintahan yang dijalankan oleh berbagai institusi pemerintah, tentunya alasan bahwa golput adalah demokratis sepnuhnya tidak benar.
Rakyat dituntut untuk andil dalam pemerintahan suatu negara lewat proses pemilu. Jadi golput adalah tindakan menolak untuk berpartisipasi dalam roda pemerintahan suatu negara. Secara moral, golput termasuk golongan yang tidak baik.

Analoginya begini, suatu perusahaan dijalankan oleh banyak orang, ada komisaris, ada direktur, ada manajer, dll. Dalam hal ini, Golput adalah orang2 yang tidak mau andil dalam roda kegiatan untuk menjalankan suatu perusahaan. Jadi, seyogyanya orang2 yang "golput" dalam suatu perusahaan, hendaknya dipecat dari perusahaan itu bukan ?

Sebenarnya, Tindakan Golput hanya membuat senang parpol yang 'anti demokrasi.
[2]

3.       PALEMBANG - Di tengah terpaan kasus korupsi yang menjerat Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng, Wafid Muharam, proyek pembangunan Wisma Atlet untuk South East Asia (SEA) Games XXVI 2011 berjalan lancar di Jakabaring Sport City Complex (JSCC), Palembang.

Kasus suap yang terus bergulir bak bola panas ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sama sekali tidak mengganggu proyek Wisma Atlet. Proses pengerjaan pasangan keramik untuk Blok A-B-C kini mulai dirampungkan.

"Progres fisik sudah mencapai 54 persen dan pengerjaan item pasangan keramik dilakukan di lantai Mess untuk Blok A-B-C," ungkap Mumu Mulyadi, Manajer Proyek Wisma Atlet, kepada pers, Jumat (13/5/2011).

Mumu menyebut, pekerjaan proyek saat ini difokuskan sampai tahapan keterselesaian, hingga pekerja ekstra hati-hati melakukannya. Sedangkan tahap pengerjaan struktur telah selesai, tinggal menyekat kamar per kamar, mengecat, dan memasang keramik saja.

"Karena sudah mendekati finising, kami harus semakin teliti bekerja," tutur Mumu, yang tidak ambil pusing dengan kasus korupsi yang menjerat Sesmenpora.
[3]

4.      Iwan Taruna dan Syamsul Al Timen

04/03/2010 16:25



Liputan6.com, Makassar: Aksi anarkis yang dilakukan mahasiswa menuntut penuntasan skandal Bank Century kembali terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan Kamis (4/2). Ratusan mahasiswa Universitas Sultan Alauddin Makassar berunjuk rasa dengan merusak fasilitas publik yang berada di sekitar Jalan Sultan Alauddin.

Pos polisi yang berada di perempatan Jalan Pettarani dan Sultan Alauddin yang berada di dekat kampus juga menjadi sasaran pengrusakan. Selain memecahkan kaca-kaca, mereka juga menghancurkan perabotan di pos polisi.

Aksi anarkis ini merupakan buntut dari insiden kekerasan yang berlangsung di depan sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam di jalan Bottolempangan Rabu (3/2) malam. Mahasiswa yang saat itu sedang berunjuk rasa dibubarkan aparat kepolisian karena memblokade badan jalan, hingga bentrokan terjadi. Dua mahasiswa ditangkap aparat kepolisian dari peristiwa itu.

Aksi unjuk rasa serupa juga terjadi di depan kampus Universitas Muslim Indonesia dan Universitas Empat Lima. Mahasiswa di kedua kampus tersebut memblokir jalan dengan membakar ban bekas. Akibat aksi ini, hampir sebagian jalur trans Sulawesi lumpuh total. Mahasiswa menuntut DPR agar tetap pada komitmennya melahirkan rekomendasi hukum guna mengusut tuntas skandal Bank Century, tanpa menghiraukan tekanan dari kelompok anti keadilan.[4]

5.       Politik uang atau biasa disebut money politic, merupakan hal yang hampir menjadi budaya para pelaku politik di bangsa Indonesia ini. Dan hal itu pun secara tidak sadar justru merusak demokrasi yang sudah berjalan sekian tahun. Politik Uang sering digunakan dalam moment-moment pilkada, pemilihan lurah, bahkan pemilihan presiden.Uang sudah menjadi panglima dalam perpolitikan Indonesia. Hal itu disebabkan karena belum adanya penegakkan supremasi hukum oleh para aparat penegak hukum. Di masa pemilihan Gus Dur, Beliau terpilih menjadi presiden bukan karena uang, melainkan benar-benar berangkat dari kepercayaan masyarakat. Negeri ini akan semakin hancur, apabila politik uang terus dibiarkan.

Para pelaku politik tidak merasa malu untuk mempraktekkan politik uang. Mereka bahkan secara terang-terangan melakukan deal-deal politik/ transaksi politik untuk memperoleh kekuasaan. Sehingga hal itu pun melahirkan masyarakat yang pragmatis. Kita tidak boleh menyalahkan masyarakat apabila mereka mengharap uang di muka tatkala ada pencalonan seseorang.
Apa yang akan terjadi apabila ideologi,loyalitas, orientasi dan lain-lain, sudah mampu terbeli dengan uang?
Hal ini bisa kita jadikan renungan bagi kita bersama, untuk membangun peradaban Indonesia jangka panjang.
[5]



[1] http://teni-setiani.blogspot.com/2010/06/makalah-demokrasi.html
[2] http://archive.kaskus.us/thread/983184/0/apakah-golput-itu-demokratis
[3] http://sports.okezone.com/read/2011/05/13/43/456861/kasus-korupsi-wisma-atlet-jalan-terus
[4] http://berita.liputan6.com/read/266417/Demo.Anarkis.Mahasiswa.Rusak.Pos.Polisi
[5] http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2087235-politik-uang-money-politic-merusak/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar